Ekonomi · 26 September 2026
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangka Tengah terus mendorong penguatan ekonomi inklusif masyarakat melalui pengembangan potensi komoditas unggulan daerah agar mampu menembus pasar global.
emerintah Kabupaten (Pemkab) Bangka Tengah terus mendorong penguatan ekonomi inklusif masyarakat melalui pengembangan potensi komoditas unggulan daerah agar mampu menembus pasar global. Upaya tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepakatan antara Pemkab Bangka Tengah dan Badan Layanan Umum (BLU) Pusat Investasi Pemerintah (PIP), sekaligus seremoni penetapan dan penguatan Desa Devisa di Gedung Serba Guna Kecamatan Namang, Sabtu (26/09/2026). Penandatanganan kerja sama tersebut menjadi langkah strategis dalam memperkuat akses pembiayaan sekaligus pemberdayaan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Bangka Tengah. Bupati Bangka Tengah, Algafry Rahman mengatakan, kerja sama dengan PIP menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah membangun ekosistem UMKM yang tidak hanya kuat di tingkat lokal, tetapi juga mampu berkembang hingga pasar internasional. “Alhamdulillah, kali ini kita menandatangani Nota Kesepakatan (MoU) dengan teman-teman dari PIP. Untuk pertama kalinya, kita juga meluncurkan komoditas lada sebagai Desa Devisa. Salah satu produknya adalah lada putih yang hari ini kita lepas untuk dipasarkan ke pasar global,” tutur Algafry. Ia menyebutkan, salah satu negara yang siap menerima komoditas lada putih tersebut adalah Netherlands atau Belanda. Ia menyampaikan bahwa langkah tersebut menjadi momentum penting bagi Bangka Tengah untuk mulai mendorong produk-produk UMKM dan hasil pertanian lokal agar berorientasi ekspor. Algafry menegaskan, pencapaian tersebut tidak terlepas dari kolaborasi berbagai pihak, mulai dari lembaga pemerintah, PIP, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), DJPb, pemerintah desa, pelaku UMKM hingga masyarakat, khususnya para petani. Partisipasi masyarakat, terutama petani, juga dinilai menjadi bagian penting dalam keberlanjutan program tersebut. Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat diharapkan mampu memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. “Peran ini sangat berdampak pada pertumbuhan ekonomi, terutama dalam menggerakkan UMKM agar nantinya mampu go export,” lanjut Algafry. Dalam program Desa Devisa, Pemkab Bangka Tengah menyiapkan tiga komoditas unggulan, yakni lada putih, lidi nipah, serta produk olahan ikan. Bupati menjelaskan, pengembangan komoditas tersebut tersebar di sejumlah desa sesuai dengan potensi masing-masing wilayah. “Selain lada putih, kita ada lidi nipah sama produk olahan ikan. Jadi tiga komoditas ini memang sudah ingin kita siapkan,” ungkapnya. Algafry mengatakan, masih terdapat sejumlah wilayah lain yang memiliki komoditas potensial untuk dikembangkan sehingga mampu menembus pasar global. “Ada 10 Desa Devisa di Bangka Tengah. Contohnya, Desa Kurau untuk komoditas olahan ikan, Pangkalraya untuk lidi nipah, dan Sungkap untuk komoditas lada. Masih ada beberapa daerah lainnya yang memiliki komoditas potensial dan siap kita dorong untuk menembus pasar global,” jelasnya. Adapun 10 desa yang ditetapkan dalam penguatan Desa Devisa di Kabupaten Bangka Tengah, yakni Desa Sungkap, Desa Keretak Atas, Desa Namang, Desa Kurau Barat, Desa Kebintik, Desa Benteng, Desa Sungaiselan, Desa Kurau, Desa Air Mesu, dan Desa Air Mesu Timur. Direktur Utama PIP Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan RI, Ismed Saputra, mengatakan kolaborasi dengan Pemkab Bangka Tengah diarahkan untuk memperkuat ekosistem pembiayaan dan pemberdayaan UMKM. “PIP tugasnya memberikan pembiayaan buat UMKM, tapi tidak direct, jadi kita metodenya executing. Jadi nanti kita akan cari lembaga-lembaga kalau di bidang pembiayaan itu nanti misalnya apakah lembaga keuangan mikro, apakah koperasi, atau BUMDes, atau BUMNag, atau badan usaha yang ada di sini yang sudah terbangun ekosistem di UMKM-nya,” terang Ismed. Selain pembiayaan berupa dana bergulir, Ismed mengatakan PIP juga akan berkolaborasi dalam aspek pemberdayaan masyarakat. Kolaborasi tersebut salah satunya melibatkan LPEI yang sebelumnya telah menggagas program Desa Devisa. “Pemberdayaan ini kita kolaborasi juga LPEI yang kemarin merencanakan Desa Devisa. Itu BUMN kita juga dari Kemenkeu. Nanti kita kolaborasi, misalnya LPEI mengajarkan atau membiayai, kelompok masyarakat belajar terkait bagaimana standardisasi produk untuk sasaran ekspor,” jelasnya. Ismed menambahkan, keberlanjutan program juga akan didukung melalui pemantauan oleh perwakilan Kementerian Keuangan yang berada di daerah, khususnya Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) di Bangka Belitung. Penguatan Desa Devisa juga disambut positif oleh para petani lada di Desa Sungkap. Ketua Gapoktan Latih Asri Desa Sungkap, Mintarya (53) menjelaskan saat ini menaungi 17 kelompok tani (poktan) dengan masing-masing kelompok beranggotakan sekitar 25 orang. Para petani tersebut mengelola lahan lada dengan total luas sekitar 50 hektare. Potensi produksi lada di Desa Sungkap juga cukup besar, dengan rata-rata hasil panen mencapai sekitar 10–15 ton per tahun. Hasil produksi tersebut saat ini dipasarkan dengan kisaran harga Rp140 ribu hingga Rp150 ribu per kilogram. Mintarya berharap program tersebut dapat menjadi momentum untuk memperkuat kembali posisi lada lokal sebagai salah satu komoditas unggulan daerah. Karena menurutnya lada yang dihasilkan petani Desa Sungkap memiliki sejarah dan kualitas yang pernah dikenal luas. “Harapannya Desa Devisa ini bisa membuat lada Sungkap bisa kembali menjadi idola. Karena, kita punya sejarah sendiri sehingga varietas lada dari Sungkap pernah masuk dalam majalah nasional, yang khusus membahas pertanian,” ujar Mintarya. Ia mengatakan, pendampingan berbasis pengembangan masyarakat yang digagas LPEI diharapkan dapat membantu mendorong produk lada Sungkap agar semakin berorientasi ekspor. Lebih lanjut, Mintarya menyampaikan bahwa salah satu langkah yang akan dilakukan adalah memperbaiki dan mengembangkan varietas bibit unggul lokal sehingga menghasilkan lada berkualitas, memiliki daya saing tinggi, sekaligus lebih tahan terhadap serangan hama. “Kita akan perbaiki dulu varietas bibitnya dan akan kita kembangkan lagi bersama teman-teman di Gapoktan,” tambahnya. Mintarya juga berharap program Desa Devisa dapat membuka akses pemasaran yang lebih luas bagi hasil produksi petani. “Karena sekarang, pemasaran kami masih terbatas. Mudah-mudahan nanti bisa semakin terbuka untuk wilayah pemasarannya,” pungkasnya. Melalui sinergi Pemkab Bangka Tengah, PIP, LPEI, DJPb, pemerintah desa, pelaku UMKM dan masyarakat, program Desa Devisa diharapkan dapat memperkuat rantai usaha dari produksi, pembiayaan, peningkatan kualitas hingga pemasaran. Langkah tersebut sekaligus membuka peluang bagi komoditas unggulan Bangka Tengah untuk semakin dikenal dan memiliki akses ke pasar global.* Sumber: Diskominfosta Bangka Tengah Penulis: Deanty N Editor: Kumala Sari Dewi Fotografer: Prayogi J
Sumber: Bidang Informasi dan Komunikasi Publik

Investasi · 21 Oktober 2026
Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah berkomitmen mendampingi pengembangan produk perikanan lokal melalui peningkatan kualitas, legalitas usaha, serta perlindungan jaminan sosial bekerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan.

Pemerintah · 29 September 2026
Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah (Pemkab Bateng) berhasil meraih penghargaan Peringkat Terbaik Ketiga Jamsostek Award Tahun 2026 Kategori Kabupaten/Kota Tingkat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.